
Selamat malam pemirsa. Tidak ada negara maju lahir dari masyarakat yang malas membaca. Sejarah menunjukkan kemajuan ekonomi, teknologi hingga peradaban selalu ditopang dengan budaya literasi yang kuat. Kemudian, namun di tengah kemudahan akses informasi, media sosial, dan kecerdasan buatan, muncul anggapan membaca buku dan literasi tak lagi penting. Apakah kita sedang menghadapi sebuah paradoks? Semakin mudah mendapat informasi, namun semakin sulit berpikir kritis. Selengkapnya kami bahas dalam Merah Putih Paradoks Indonesia. Malam hari ini kita akan bahas bersama narasumber yang telah hadir bersama kami di studio Toba Inti Tower Jakarta. Saya perkenalkan satu persatu terlebih dahulu. Di sebelah kiri saya yang paling cantik ada ketua program pasca sarjana Ilmu Manajemen FEBUI, ada Prof. Sri Rahayu Hijrahti. Selamat malam, Prof. Selamat malam. Terima kasih telah bergabung bersama kami. Dan di sebelah Prof. Sri ada Deputi Direktur Pengembangan Pusat Penelitian ITB, Dr. Grand Prix TMKaj. Selamat malam. Selamat malam.
Merisal. terima kasih telah bergabung bersama kami. Dan di sebelah kanan saya ada deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Republik Indonesia, Dr. Adin Bondar. Selamat malam. Selamat malam. Terima kasih Pak Adin telah bergabung bersama kami. Dan di sebelah Pak Adin ada penulis buku dosen F PM maksud kami dosen PPIM FEB UI dan advisor NTV ada dr. Maner Pasar Ibu. Selamat malam. Selamat malam, Bapak Irsal. Terima kasih telah bergabung bersama kami. Sebelum saya berbincang dengan narasumber hebat saya hari ini dan malam hari ini, kita simak dulu pernyataan berikut ini untuk Anda. Kalau aku pribadi sebagai Genzi ya mengakui memang benar minat baca Indonesia ini sangat rendah. Karena kalau berkaca juga sama data di UNESCO bahwa Indonesia ini peringkat kedua terbawah untuk e literasi dunianya. Itu artinya kalau untuk minat baca mungkin Indonesia ada di angka 0,001% itu dan aku pun merasa generasiku saat ini dan teman-teman di keliling sekelilingku juga minat baca sangat rendah. Kalau kita fokusin lagi minat baca nih untuk baca buku, baca ebook lah ya yang memang itu tulisannya cukup ee memakan banyak waktu untuk kita bisa duduk dan berdiam diri itu minat bacanya sangat rendah. Terlebih di era sekarang nih ada fenomena yang namanya popcorn brand ya. Jadi kita tuh di mana otak kita nih fokus pada hal-hal yang memang ee instan aja. Nah, itu mungkin yang mendistract kita untuk bisa ee fokus baca buku. Tapi karena terlalu lama, terlalu ee jenuh, enggak bisa fokus ee berlama-lama, akhirnya kita beralihlilah ke handphone atau gadget yang memang ada kliper-kliper, potongan-potongan yang oke ini cuma bisa 30 second aja, 1 menit aja. Itu kan lebih memudahkan otak kita yang nerima yang instan-instan aja. Itu sih menurut aku memang benar ya. Minat baca di Indonesia sangat rendah gitu. mungkin minat baca mungkin karena ada keterbatasan akses kali ya kayak perpustakaan terus juga buku-buku yang ingin dibaca terus juga zaman sekarang kan dominasi gawe atau sosial media kan meningkat ya mungkin anak-anak atau generasi muda lebih senang mendengar visual menonton dibandingin baca buku ee konvensional seperti itu. penting banget karena aku pribadi juga punya target nih. E dulu tuh aku memang rajin baca ya, tapi sampai sekarang karena mungkin aktivitas padat juga terus ada handphone yang e terus-menerus update tanpa kita cari pun dia kan selalu update ya. Jadi terbantu banget dengan HP. Nah, tapi gimana caranya supaya budaya baca ini tetap melekat sama diri sendiri ya kita latih terus-menerus ya. Karena yang paling dekat sama kita ya membaca gitu. Apapun itu kan kita kayak baca judul berita aja kan kita baca ya. Tapi usahain gimana caranya kita enggak cuma baca judul atau clickbait-nya doang. Kita baca paragraf pertama 2 3 sampai selesai dan kita bisa punya konklusinya sendiri. Jadi enggak benar-benar ee kita akhirnya termakan sama ee clickbait clickbait ataupun berita-berita yang simpang siur itu sih. Kalau dari aku. Heeh. Penting ya. Soalnya membaca itu kan langkah atau jembatan utama untuk seseorang ee apa mendapatkan informasi melihat dunia yang lain yang dan juga untuk apa seperti memperoleh ee dia belajar untuk pola berpikirnya seperti apa sih kan dari membaca dia bisa mendapatkan banyak ilmu dan hal-hal lain yang sangat bermanfaat untuk orang itu mungkin untuk membentuk generasi yang lebih cerdas bagi yang ee generasi muda seperti itu. H. Baik, kita langsung berbincang bersama narasumber dan bagi Anda yang berada di manaun Anda dapat bergabung bersama kami di Obrolan Merah Putih malam hari ini melalui tayangan streaming akun YouTube Nusantara TV Official. Langsung saja saya mau ke yang paling cantik malam hari ini, Prof. Sri, kita tahu bahwa banyak negara maju yang artinya ini SDM-nya unggul. Nah, berkaitan dengan tema kita malam hari ini, bagaimana kemudian kita bisa meningkatkan minat baca, lalu apa korelasinya antara SDM unggul dengan tingkat baca masyarakatnya menurut Anda seperti apa? Ya, kalau kita melihat hasil dari ee PISA gitu ya, ee kita lihat rankingnya kan sepertinya yang tinggi itu adalah Jepang, Korea. Ee negara yang mid negara tetangga kita Malaysia tuh masuk di ee menengah. Oke. Kita itu yang tertinggal terakhir seperti itu. Singapura juga termasuk yang tinggi seperti itu ya. Ee dan kita ee lihat deh budaya kerja dari segi eh work etics gitu ya. Jepang itu sangat baik gitu ya. Jadi ee unggul terkait Korea juga ya, teknologi dan lain sebagainya tuh unggul ee dan tidak tertinggal ya karena mereka ee berdasarkan survei juga termasuk kategori yang literasinya tinggi. Kita juga harus pisahkan antara sebenarnya literasi itu ada basic literacy dengan functional literacy. Oke. basic literasi. Kalau kemampuan membaca di Indonesia sebenarnya prentasenya tuh masih agak tinggi, tapi pas ke functional literacy di mana kemampuan mengambil keputusan seperti itu ya dan juga ee kemampuan memahami pesan itu ee rendah. ternyata ada gap gitu ya antara basic literasiy functional literacy. Jadi ya kalau di Indonesia PR-nya menurut ee perspektif pribadi saya memang yang harus ditingkatkan itu functional literasi terkait dengan kemampuannya untuk memahami berita dan informasi karena kita enggak kekurangan akses. Heeh. Kalau informasi itu luber. Tadi teman saya di WAg bilang namanya obesity of information katanya seperti itu minjam istilahnya ya. Tapi ee kemampuan untuk mencerna gitu ya, micode dan memahami itu yang kurang seperti itu. Iya. Makanya dampaknya adalah banyak masyarakat yang menjadi korban hoa karena ketika luber informasi tidak bisa mengkurasi secara mendalam apakah berita ini benar atau tidak. Begitu. Iya. Kalau literasi itu impactnya banyak ya kepada ee impactnya secara sosial, impactnya secara ekonomi. Kalau secara ekonomi kalau seseorang yang literasinya baik, baik secara basic maupun function, maka dia itu akan mampu untuk mencerna informasi ee yang sekarang luber ini ya. Jadi ee dia bisa memilah ya kata kuncinya memilah dan juga mengases ee apa ee alternatif informasi untuk mengambil keputusan ekonomi. Jadi ketidakmampuan memilah ini bisa menyebabkan sekarang yang lagi ramai lah judul pinjol seperti itu ya. Nah, ee yang lainnya lagi adalah literasi yang rendah ee dari sisi ee apa yang tadi eh functionional itu. Maka dia juga tidak bisa mengasses opportunity-opportunity untuk investasi ya eh oportunitas ekonomi sehingga gap ekonomi di masyarakat semakin tinggi in the long run seperti itu ya. Kalau secara sosial tadi informasi yang pendek-pendek itu sebenarnya basicnya tuh karena malas ya, malas mencari ee dan membedakan mana yang opini, mana yang fakta. Ee juga kemampuan untuk kayak memilah nih si sendernya ini ada bias enggak? Ada keinginan untuk memanipulasi receivernya enggak? Tapi rata-rata sender itu atau pembuat konten itu tidak memikirkan bahwa apa yang akan menjadi dampaknya. Yang terpenting adalah bagaimana ee mereka mendapatkan adjustment tinggi begitu. Karena di situ ada sistem hook begitu ya. Ketika masyarakat tertarik di awal even itu ee ee informasinya belum tentu valid itu menjadi keunggulan si content creator sendiri untuk menggrab netizen begitu. Iya. Sebenarnya kan maksudnya menurut saya ada yang memang dia tidak bisa mengses dampak tapi ada juga kalau secara politik Mas kita enggak bisa ee apa saya bukan politisi sih saya di Fakultas Ekonomi ya tapi ee yang dalam kasus misalnya Pilpres atau Pilkada seperti itu, sender-sender, bazer-bzer itu ee punya sebuah niatan di mana dia tahu masyarakat itu ee kalau terkena informasi yang pendek sifatnya itu ee reaksinya tuh emosional dibandingkan rasional. seperti itu dan itu dimanfaatkan sehingga katanya dalam jangka panjang literasi yang rendah itu justru menyebabkan ee ya ee berkurang atau berkontribusi terhadap redemokratisasi suatu negara dalam jangka panjang dan itu padahal itu sebenarnya sudah dibentuk sama mereka-mereka yang memang berkeinginan untuk betul ya kampanye hitam lah dan lain sebagainya begitu ya. Baik. Kalau menurut Anda dilihat dari wajah Indonesia, baik masyarakatnya, baik pemerintahannya, kalau tadi Anda sudah menyebut Korea Selatan, kalau saya salah tolong koreksi. Korea Selatan itu lebih mengedepankan peraturan pemerintahnya untuk menaikkan minat baca. Di Jepang itu lebih mengedepankan bagaimana peran orang tua untuk meningkatkan minat baca anaknya. Iya. Kalau di Finlandia juga ada. Bagaimana kemudian negara itu menggunakan metode sehingga anak usia dini bisa ee tertarik dengan baca itu. Nah, di Indonesia seperti apa menurut Anda yang pas dengan untuk benchmarking seperti itu? Betul. He ee sebenarnya tidak ada satu formula negara mana karena kan kita secara geografis juga berbeda. Terus ada digital divide yang sangat tinggi. Meskipun kemarin ada program pemerintah untuk menurunkan digital divide seperti itu. Ee terus karakteristik masyarakatnya juga berbeda karena kan kalau orang Jepang tuh memang rajin seperti itu. Jadi kombinasi dari e berbagai negara itu yang harus kita jadikan benchmarking misalnya dari Korea regulasi karena kita tuh kalau tidak ada faktor eksternal kannya berat dasarnya maaf tidak bermaksud ee kayak apa menjudge bahwa bangsa kita malas tapi ee itu karakter yang harus dirubah. Sementara di Jepang tuh selfdiplin tuh dibentuk dari usia dini. Kan mereka anak-anak enggak cuma soal belajar calistung membaca tulis berhitung tapi ngepel ee kantin yang gitu-gitu supaya bersih. Dari Estonia katanya kalau saya membaca gitu ya itu mereka tuh ee digital literasi sangat ee dipentingkan seperti itu. Jadi ee bijak memilah informasi secara digital. Kalau dari Singapura kita juga bisa belajar mereka tuh adult learning sangat bagus sehingga work literacynya tuh sangat baik karena memahami instruksi kerja jadi PR loyer saat ngerekrut anak-anak sekarang seperti itu, Mas. Oke. Baik. Kalau menurut Anda nih ya, apa kemudian yang hilang ketika anak sekarang lebih e cenderung atau lebih minat melihat konten-konten yang notabennya singkat tapi informasinya yang padat dan belum tentu ada kebenarannya ee dengan minat baca yang saat ini. Tapi jangan dijawab dulu. Oke. Saya mau ke Pak Grand Prix. I tadi ee masyarakat bilang bahwa ee indeks kita rendah begitu ya untuk tingkat baca. Kalau di kalangan mahasiswa sendiri, apa yang kemudian ee dihadapi mereka? Ee kita kan akan menghadapi dengan lulusan ee perguruan tinggi yang sangat banyak begitu. Apa kemudian ee yang bisa ditimbulkan ketika mereka lulus terus hilang daya pikir kritisnya karena minat bacanya rendah? Iya. Jadi tadi ee Bu Cici sudah sampaikan ya, ada functional literacy. Jadi literasi itu kan sebenarnya tidak hanya membaca, tidak hanya mengumpulkan informasi, tapi lebih lanjut itu memahami informasi dan bahkan ada hal yang baru yang bisa disintesis dari informasi-informasi tersebut. Nah, kalau misalkan ee ee itu hilang, maka kita jangan berharap akan ada breakthrough dalam perkembangan sains, teknologi, bahkan berdampak pada ekonomi kita. Jadi ee di negara manaun eh data World Bank bilang bahwa negara maju high income itu kalau sumber modal insaninya, human resource-nya itu kira-kira 68%, natural resources-nya hanya 5%. Singapore natural resources-nya apa sih? enggak ada. Tapi mereka invest di sumber daya insaninya, sumber daya manusianya. Sumber daya manusia seperti apa? Yang tentu high literacy, yang functional literacy yang tidak hanya mengumpulkan informasi, bisa memahami informasi dan juga bisa menggabungkan, mensintesis suatu pengetahuan baru dari informasi-informasi tersebut, gitu. Oke. Oke. Ee faktanya ee apakah menurut Anda dengan indeks kita yang rendah ini akan ada lulusan doktor 24 tahun lagi 24 tahun seumur Pak Grand Prix meraih gelar doktor? Luar biasa. Iya. Ya. Jadi ya memang tadi kan ee Mas Irsal bilang ada ee beberapa mode di tiap negara ya. misalkan ee ada mode di negara Jepang yang dari ee sejak keluarga dari familynya sudah diforce itu harus membaca dan memang eh tidak ada one strategy fits all gitu. Tidak mungkin kita satu strategi bisa diterapkan ke semua. Tapi setidaknya yang di case saya ee itu memang dienforce oleh orang tua. Oke. Ee kebetulan Bapak saya kan guru, Bapak saya guru dan ee cukup disiplin. Jadi memang awalnya itu divorforce, divorforce. Ee kemudian setelah bisa menikmati oh bahwa membaca itu ternyata baik, membawa banyak sekali keuntungan buat saya ya dengan sendirinya itu sudah otomatis berjalan. Artinya bukan hanya mendorong orangnya, tapi dukungan dari orang sekitarnya perlu juga dibangkitkan. Pertanyaannya, bagaimana kemudian cara membangkitkan orang-orang yang ada di sekitar kita? Taruhlah orang tua di Indonesia ini tidak banyak orang tua yang melek akan pentingnya minat baca untuk anaknya. Ya, jadi ee yang tadi eh saya maksudkan dengan enforce oleh family, oleh orang tua itu tidak hanya bilang, “Eh, kamu baca ya.” Tidak bisa kayak gitu. Tapi orang tua harus memberikan contoh. Oke. Ee saya masih masuk generasi milenial, anak lahir 90-an awal itu ee ee ee bacaannya masih koran dan ee Bapak saya mencontohkan bahwa tiap pagi itu pasti baca koran. He. Jadi tidak hanya enforce dengan eh perintah, dengan order, tapi juga by example. Dan menurut saya itu ee ee satu model yang e rasanya cukup baik. Jadi enforcing-nya tidak hanya dengan order, tapi memberikan contoh. Apalagi anak usia dini itu paling sulit untuk disuruh, tapi paling mudah untuk mencontoh. H. Oke. Luar biasa. E, saya mau ke Pak Adin. Pak Adin, apa yang dikatakan oleh Pak Grand Priksi ini? Anda sebagai pihak yang memegang data perubahan ee masyarakat Indonesia dari minat baca koran berbentuk fisik gitu dengan perubahan minat baca dalam bentuk digital. Kalau tadi juga masyarakat bilang saat ini memang semua beralih ke digital, tapi ada ee kendalanya juga ee tampilan tidak menarik terus kemudian huruf juga susah dibaca dan lain sebagainya. Apa yang Anda baca terkait kondisi ini? ya. Ee kalau menurut pandangan saya ya, Pak ya, Pak Irsal. Ini kan satu fenomena Heeh. Di mana di satu sisi digitalisasi berkembang atau kecerdasan artifisial ya sangat berkembang. Di sisi lain budaya atau kegemaran membaca kita masih rendah. He. Nah, oleh karena itu dalam konsep pendekatan pembangunan literasi yang kami desain itu adalah pendekatan hybrid. Oke. Perpaduan antara konvensional dan digital. ya. Nah, memang kalau kita melihat bahwa fenomena post truth saat ini pasca kebenaran itu he itu acap kali kita melihat bahwa rendahnya literasi digital itu membawa satu fenomena baru tadi kan itu di mana ketidaksiapan masyarakat kita tidak cakap di dalam literasi. Nah, kadang-kadang karena mereka menangkap kedangkalan informasi tadi itu mengakibatkan satu fakta objektif itu kan itu tidak mampu untuk membangun opini publik. Bahkan kadang-kadang kebohongan itu menjadi kebenaran. Nah, ini para peneliti juga yang dilakukan beberapa universitas ya seperti di Universitas of eh Valencia di Spanyol dikatakan bahwa kehadiran buku-buku digital itu itu membangun satu pola pikir dangkal dibanding dengan membaca buku-buku teks. Oke. Memang ada ee perbedaan cara menyusunnya strukturnya kah? Tata bahasanya kah? Tidak. Struktur mungkin ee satu ketika membaca ee buku teks itu membangun satu pemahaman yang sangat luar biasa, imaginatif. Sementara buku teks itu kata para peneliti itu membangun pola pikir dangkal. H. Jadi daya kritisnya itu agak rendah. Nah, oleh karena itu menurut temat saya dalam konteks Indonesia saat ini dengan rendahnya ee masih budaya baca ini harus kita bangun tadi hybrid tadi antara perpaduan layanan perpustakaan harus sampai kepada pelosok-pelosok negeri kita. Karena menurut saya literasi ini adalah persoalan hubungan kausalitas. Ada akibat karena ada sebab. Jadi menurut saya tidak adil juga kita menjustifikasi budaya baca masyarakat kita rendah, tetapi kita tidak berpihak punya kebijakan di dalam konteks misalnya diseminasi buku-buku bacaan bermutu misalnya sampai kepada pelosotan air, membangun layanan perpustakaan sampai kepada masyarakat. Oke. Baik. Dengan dua metode itu, hybrid secara konvensional, apa yang menjadi indikator bahwa ee minat baca masyarakat itu sudah mulai ee meningkat atau ada faktor lain yang menyebabkan minat baca ini sulit untuk didongkrak? Pandangan saya, Pak Irsad, saya melihat memang budaya baca ini saya proses kognitif. Heeh. Itu harus dibangun dari dasar, Pak. Maka pendekatan menurut saya yang harus kita ubah adalah secara fundamental itu berbasis pada keluarga. Oke. Neurologi Sains menyatakan bahwa seorang anak sel-sel otaknya berkembang dalam waktu 1000 hari pertama kehidupan. Hm. di mana Bunda mengandung 270 hari kemudian lahir ke dunia yang 2 tahun. Di situ miliaran sel-sel otak berkembang Pak. Itu harus dilakukan stimulasi. Maka tadi betul yang dibilang ee Pak Grand Prix, Pak Grandprx tadi harus diawali dari keluarga, orang tua, ibu, dan ayah. Itu harus menjadi role model. He. Panutan di sana. Boleh saja, Pak. bisa melalui teknik-teknik yang telah kami lakukan misalnya metode yang kami lakukan membaca nyaring bagi anak-anak kita yang belum bisa membaca itu ada pendekatan itu. Oke. Di zaman yang sekarang ini kita kenal sebagai VOC parenting. Apakah itu juga masih ee bisa diterapkan di saat ini? Karena kita tahu ke depan yang jadi orang tua adalah Genzi. di mana Gen adalah generasi yang katanya lembek dibanding milenial. Itu dijawab nanti Pak Adin. Saya mau ke Pak Manar dalam konteks pembangunan bangsa begitu ya. Dari negara ee berkembang menuju negara maju menurut Anda seberapa besar pengaruh literasi untuk mempercepat transformasi? Baik ee Pak Risal. Jadi sebetulnya sebelum sampai ke sana dulu ya ee kebetulan kami basis kami itu sebetulnya adalah manajemen pengetahuan ya. Jadi tidak ada sangat jelas tidak ada satu bangsa pun yang maju ya tanpa memiliki pengetahuan yang baik. Ya itu sudah pasti itu ya. Ee pengetahuan yang baik itu knowledge ya itu bisa diperoleh dari tiga cara ya. pertama itu dengan menciptakan knowledge itu sendiri, pengetahuan, sharing lagi ya, kemudian implementasi. Tiga hal inilah sebennya basis knowledge pengetahuan itu yang membangun sebuah apakah organisasi atau bangsa itu harus dimiliki itu ya ciptakan kemudian share ke orang ya kemudian diimplementasikan. Kalau sudah ini menjadi satu kesatuan di dalam sebuah organisasi maupun sebuah bangsa, praktis bangsa itu akan maju. Nah, [berdehem] menuju ke sana sebetulnya bagaimana kita menciptakan pengetahuan? Sudah pasti salah satu dengan membaca tadi itu ya. Kalau tidak membaca udahlah saya tidak bisa bayangkan ya mahasiswa ya sudah e Dr. Grand Prix tadi beliau ini bisa lulus 24 tahun jadi dokter pastilah membacanya enggak tanggung. itu saya sudah sudah yakin sudah tahu formulanya jadi bisa ditiru oleh masyarakat. Betul itulah [tertawa] kira-kira sudah pasti. Jadi memang hubungannya itu bagaimanapun daya baca ini ya budaya baca literasi ini yang harus kita kita dukung itu ya tidak ada cara lain ya. Ee memang di digital saat ini bermacam-macam informasi tapi itu [mendengus] sudah disampaikan e Grand Friix itu ya itu sangat dangkal. Heeh. hanya kulit-kulitnya doang. Kita tidak bisa membedakan mana yang argumen maun opini katanya gitu dia ya. Jadi itu boleh tetap tetapi harus diimbangi e harus lagi baca literatur tekbook dan lain sebagainya. Tidak cukup dari yang tadi yang dari gadget dari internet itu ya. Jadi tambahan dari yang sudah disampaikan tadi narasumber menurut saya sudah cukup bagus ya. tidak cukup membaca dari gadget ataupun dari internet, dari sosm lain seb kita harus tetap membaca buku ya karena memang itulah ee kalau Grand Prix bilang itu merupakan basis fondasi dari sebuah pendidikan yang sehat itu membaca buku itu dia kira itu. Oke, luar biasa. ini baru empat ee tanggapan udah hampir 30 menit karena emang dasarnya deman ngobrol atau demen memberikan informasi di kelas. Jadi rasanya kalau 1 jam tidak cukup begitu ya. Tapi kita harus jeda dulu. Kita harus ee ee jeda di segmen ini. Kita akan kembali di segmen berikutnya. Pemirsa merah putih akan kembali sesaat lagi. Dunia berubah, ekonomi bergerak. Di balik perubahan ekonomi, ada arah yang perlu dipahami. Seberapa besar sebetulnya potensi yang belum tergarap. bedah data hadir dengan informasi terkini, analisis mendalam, dan dialog strategis untuk memahami dinamika ekonomi nasional dan global. Kita akan bahas lengkapnya pemirsa. Saksikan bedah data Senin sampai Jumat jam 10. pagi live di Nusantara TV. Analisa mendalam dari buletin harian hingga dialog yang mengulas ragam isu ekonomi dan bisnis. Banyaknya kalau kita lihat sekarang adalah kenaikan harga-harga energi ya. Belum lagi supply chain disruption ya. Harga LPG 3 kg atau subsidi tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan. Harga bahan baku dalam dua pekan terakhir membuat produsen kian tergencet. Saksikan Nusantara Economic Updates setiap Senin sampai Jumat jam .30 pagi live di Nusantara TV. Ya, Anda kembali bersama kami di Merah Putih masih berbincang soal ee tema kita paradoks Indonesia di mana kemajuan bangsa tapi tidak dibarengi dengan ee minat baca yang tinggi juga begitu. bagaimana kemudian Pak Manerep ini memberikan apa ya semacam referensi bagaimana kemudian Indonesia keluar dari paradoks ini di saat pembangunan Indonesia yang semakin masif tapi tidak dibarengi dengan minat baca masyarakatnya itu sendiri. Baik, ini sebenarnya pertanyaan yang sulit ya, tapi bagus. Iya. Dan ini memang sudah kena ke kita ya. Sudah pastilah bahwa masalah yang kita hadapi saat ini literasi kita sangat rendah. I iya. [mendengus] Tapi kita mau maju kan itu yang persoalan itu sebetulnya ya. Ee kalau ini pendapat saya ya. Ya. Harus kita sadarkan ini Pak. Dikampanyekan. Iya ya disosialisasikan di sekolah sebagai guru, sebagai dosen tetap [berdehem] itu yang harus diutamakan dulu. Membaca nomor satu membaca nomor satu membaca nomor satu membaca nomor satu membaca begitu seterusnya. ini seperti apa ya makan obat ya [tertawa] tidak bisa sekali dua kali kita bicara itu ya tetapi bagaiman pun harus selalu dimulai dari keluarga tadi ya ada orang-orang yang bisa memberikan motivasi bagus ya sehingga membaca itu menjadi keharusan menjadi keharusan saya sebetulnya kalau di rumah membaca itu menurut saya cukuplah ya cukup karena saya juga penulis buku kalau tidak membaca baca kita menulis buku enggak lah sebetulnya itu enggak ada ya di keluarga pemenarnya sistem pendidikan atau parentingnya VC juga Bu gak saya saya yang selalu mencoba dahulu itu loh kira-kira ya yang lain silakan lebih ke mencontoh apa yang dikatakan oleh Pak karena kita tidak boleh lagi melakukan itulah memang sulitnya memberikan kesadaran bagi anak Pak menurut Anda ya menurut saya itu yang perlu kita kita sampaikan ke mereka ya hanya dengan membaca gadget membaca apa sosm itu tidak cukup ya karena kita sudah ketagihan ini menurut saya ya dan anggapan tadi yang disampaikan Paksal ya buku enggak perlu lagi ya tetapi karena informasi sudah meluber di mana-mana tetapi itu saya bilang dangkal itu dangkal sekali itu ya banyak tapi dangkal untuk apa sebetulnya ya padahalnya bagi sebuah bangsa ataupun sebuah organisasi yang diperlukan itu adalah pengetahuan knowledge yang benar-benar dalam dia yang bisa memberikan nilai kepada ee kita semua yang ada di NKRI. Nah, kalau kembali ke pertanyaan tadi Paksal ya, saran saya harus kita sedarkan nih, Pak, menjadi kerja keras kita semua untuk memotivasi generasi-generasi yang berikut ini, generasi menjadi generasi pembaca. Karena itulah memang yang diharapkan generasi pembaca di mahasiswa ya, di sekolah tanpa generasi pembaca itu kita akan turun ini ya apa ee kualitas SDM kita ini akan turun. Memang enggak bisa. Karena itulah sebetulnya di dalam ee apa ee hari buku itu sudah disampaikan ya. Mari membaca, kemudian mari berpikir, kemudian juga mari menulis. Oke. Menulis hari buku ada dua nih, Pak Manerep ya, buku nasional dan buku internasional. Jangan cuman hanya sekedar bagaimana kita memperingati, tapi juga mengimplementasinya. Bagaimana kemudian itu dilakukan? Jangan dijawab dulu. Saya mau ke Prof. Seri tadi ee pemand mengatakan bahwa ya kondisinya masyarakat Indonesia lebih menarik untuk melihat konten media sosial ketimbang membaca mendalam. Apa yang kemudian hilang ketika masyarakat lebih ee cenderung melihat ee konten singkat dibanding dengan membaca secara mendalam? Yang hilang itu critical thinking. Oke. Jadi kalau sekarang Anda bertanya apapun semuanya ada di AI ya chat GPT, Gemini dan lain sebagainya. Nah, mahasiswa karena kebetulan saya mengelola program pasca sarjana itu tuh mereka dengan cepat bisa menjawab ya, Pak Manarp ya kebetulan mengajar juga beliau. Tapi yang ee hilang dengan hanya melihat saja jawaban di chat itu ya critical thinking. Karena critical thinking, kemampuan mensintesis semua data menjadi sebuah informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan itu kan salah satu atau output yang ingin kita raih. Terus tadi terkait dengan pertanyaan yang Mas Irsal e ajukan kepada Pak Manerep bahwa kita ingin maju berkembang kan berarti untuk maju dan berkembang itu tuh sebenarnya harus kita produce suatu teknologi gitu kan ya. Inovasi itu menjadi kunci. Tanpa critical thinking tidak mungkin ada inovasi. He. Jadi tidak hanya sekedar membaca tapi memahami itu menjadi kunci. setelah memahami ada critical thinking untuk tadi memilah antara eh ya aneka bias manipulasi dan juga mana ee fakta mana opini itu kemampuan itu dan kemampuan sintesis itu yang harus ada kalau hanya membaca saja tok tanpa ada critical thinking ya it mereka sebenarnya tahu enggak sih Prof ee Sri mereka bohong aja kita tahu gitu ya e gimana kita menjadi penguji gitu lu jangan bohong kasar gini, lu jangan bohongin gue deh, gitu. Gua hidup lebih lama, lu cari jawaban dari chat GPT, gua tahu gitu. Ee karena experience ya, Mas ya. E saya tahu mahasiswa dari chat GPT dari ee panjang paragraf itu sudah terlihat, dari spacing yang sangat rapi itu juga terlihat dan sebenarnya ee kalau dosen itu ya atau ee saentis itu kan seharusnya tidak hanya membaca tapi juga menulis. Karena dengan menulis seperti pamanerap mereka share knowledge. Karena kalau enggak share knowledge ilmu pengetahuan berhenti kelar kita mati udahan aja gitu kan ya. Nah eh kami itu karena pengalaman tuh bisa ee nge-sense bahwa ini adalah hasil dari AI dan kalau Anda rajin menulis maka jejak-jejak kaki tangan kita dalam tulisan tuh terasa karena ada jiwa kita dalam penulisan. Makanya saya selalu sampaikan pada mahasiswa kalian tuh jangan kehilangan rohnya. Karena AI itu AI aja kayak kering aja. Tapi sentuhan manusia ada di sana. Kemampuan Anda mensintesis itu ada pada tulisan. Artinya mereka mati ketika kita disuruh pilih penelitian kualitatif begitu ya yang notamanya kita observasi, tulis ee rangkuman dan lain sebagainya. Artinya bahwa saat ini ee ibaratnya matinya berpikir kritis. ee ya ee kita masih tetap optimis ya bahwa ada masih ada generasi ee sebagian yang memang tidak hanya membaca tapi tetap berpikir kritis dan mereka itu pada akhirnya ee punya wisdom gitu kan ya dari berpikir kritis itu kan yang kita ee inginkan tuh endingnya tuh ada wisdom dan dari wisdom itu ya ada juga eh apa innovation seperti itu ya yang ee saya sih masih optimis gitu ya bahwa ada generasi itu gitu. Oke. Baik. Harapannya gitu ya. Mudah-mudahan masih ada ya. Ada. Baik. Tadi ee Prof. Sriang ya semua jawaban kita bisa peroleh ee dengan mudah di AI begitu ya dalam hitungan detik bahkan. Terus kemudian teknologi ini bisa jadi menggerus apa ya proses belajar mendalam begitu ya. Ketika ini sudah jadi budaya artinya ini merupakan tantangan begitu ya. percuma kita meneliti berbagai macam aspek, tapi kalau ini tidak bisa berubah, Pak Grand Prix. Ya, jadi ee kan orang bilang karena ada AI jadi penelitian membaca itu jadi tidak relevan. I itu justru salah membaca itu jadi semakin relevan. He. Karena AI itu saya lebih senang nyebutnya collaborative science. Oke. Atau collaborative intelligence karena dia tidak bisa berjalan sendiri. Iya. Butuh yang menggide si AI. Jadi kalau kita baca bukunya Thomas, The Structure of Scientific Revolution, sains itu tumbuh dalam suatu paradigma yang terkini. Saat dia ketemu anomali dan dia tidak bisa menjelaskan anomali, dia ada terobosan pindah ke paradigma yang baru. Oke. AI berpikir dengan paradigma yang sekarang. Heeh. Tidak bisa dia menemukan suatu paradigma baru. He. Karena dia hanya melaksanakan ee perintah berdasarkan paradigma yang memang saat ini sedang berlaku. Iya. Oke. Ee hukum Newton atau fisika Newton kan berlaku ratusan tahun sampai kemudian dia tidak bisa menjelaskan apa itu atom, apa itu elektron dan seterusnya pindah menjadi mekanika quantum. Oke. Dan itu human guided proses. Jadi tidak bisa kita lepaskan AI begitu saja. eh tanpa diide oleh human mind. Human mind yang seperti apa? Yang kaya akan literasi, yang kuat akan fundamental sence. Eh eh CEO Nvidia kan bilang, “Eh, enggak perlulah kita belajar coding. Coding mah bisa oleh AI karena [mendengus] itu current paradigma. Tapi yang harus kita kuatkan apa? Justru belajar fisika, Pak. belajar kimia, belajar basic sains, belajar basic STEM supaya kita tidak ee kemudian ter ee jerumus ke dalam ee penggunaan EA yang di permukaan saja, superfisial. Oke. Tapi masyarakat kita ini sudah kadung percaya dengan e teknologi AI itu kalau memang menurut Anda ee validitasnya masih dipertanyakan untuk menjawab masa depan begitu ya, karena dia cuman bisa menjawab saat ini dan masa lalu begitu. bagaimana kemudian ee harapan teknologi ke depan begitu dan bagaimana melepaskan masyarakat Indonesia dari ketergantungan terhadap teknologi itu. Ee ya itu tadi ee ee apa namanya? Kita tidak membangun Roma dalam satu hari kan ya Mas Irsal ya. Itu harus benar-benar dipupuk dari sejak dini.
Makanya saya salah satu yang cukup kecewa bahwa misalkan di kurikulum itu harus ee misalkan basic sains seperti chemistry and physics itu tidak lagi diwajibkan malah harus milih. Kalau ngambil fisika boleh enggak ngambil kimia. Kalau ngambil kimia ee enggak apa-apa deh enggak ngambil fisika. Itu enggak bisa. kita harus berpikir secara komprehensif bahwa mungkin nanti anak-anak akan punya preferensi keilmuannya masing-masing, tapi basic sains fundamentalnya itu harus diperkuat. Jadi ee ini yang harus semakin kita ee galakkan bahwa eh kalau kita mau ee ee tumbuh, mau Indonesia maju, mau Indonesia terang, basic science harus di ee perkuat kembali. Oke, PR-nya itu ya, Pak Adin. Bagaimana kemudian Perpusnas menghadapi perubahan ee pola baca masyarakat ya dari yang tadinya bisa baca mendalam tapi berubah ke arah ee digital yang ya relatif singkat begitu ya yang menyebabkan pemikiran dangkal menurut kata Paman tadi. Bagaimana Perpusas menghadapi ini? Iya. Dari diskusi tadi bahwa literasi satu hal yang sangat fundamental menurut temat saya yang harus kita lakukan dan dorong menjadi suatu ikhtiar kolektif kita, Pak. Itu adalah tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Nah, oleh karena itu dengan perkembangan tadi teknologi yang begitu masif, maka Perpustakaan Nasional melakukan program inisiatif transformasi perpustakaan. Oke. Kita mengembangkan platform digital. Heeh.
Ada Ipusnas, bisa diakses melalui smartphone ya. ada ee fatum-faktum digital lainnya seperti e resources, bintang pusnat Pusnas Edu. Di sana ada sekitar ee 1,5 juta kopi buku-buku digital. Nah, di samping itu dalam kerangka mendorong literasi ini maka Perpustakaan Nasional juga mengembangkan ekspansi layanan melalui layanan konvensional, membangun ruang-ruang baca di masyarakat. Nah, kita sudah berhasil 2 tahun ini kerja sama dengan Kemendikdas Desmen membangun ruang baca perpustakaan desa, komunitas dan rumah ibadah. He Rp2.000. Oke. Dengan buku-buku bacaan bermutu itu satu desa 1.000. Dan kita lakukan juga pemanfaatannya adalah melalui ee relawan literasi. 360 relawan literasi yang sudah kita sebar dan juga adanya juga kerja sama dengan Kementerian ee Pendidikan Tinggi Sentek adanya KKN tematik literasi. Tahun yang lalu 10.000 kita dorong mahasiswa untuk melakukan giat-giat literasi di masyarakat kita. He.
Nah, oleh karena itu pendekatan transformasi karena menurut temat kami bahwa literasi ini memiliki ee dampak ganda terhadap kualitas hidup masyarakat kita. Saya ingin mengemukakan hasil dari penelitian UNDP di dalam tajuk Literasi for Life dikatakan bahwa kenapa kemajuan ee negara-negara Eropa itu begitu dahsyat. Itu dikatakan bahwa kecakapan literasi itu sangat berkorelasi. Kesenjangan literasi itu sangat berkolelasi dengan ee pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Hm. Karena melalui membaca tadi informasi diserap masuk ke kondisi manusia. Dia memiliki tadi yang disebutkan profesor adalah wisdom. Itu teori hierarki informasi. Oke. Maka transformasi itu harus kita lakukan sehingga lahirlah modal insani masyarakat kita nanti yang kreatif, inovatif, berbasis pengetahuan. Heeh. Jadi kata kuncinya adalah tidak ada negara maju tanpa memiliki budaya baca tinggi. Saya selalu bilang juga di dalam beberapa tulisan kemiskinan itu ada karena ketidakhadiran masyarakat berpengetahuan karena tidak membaca. Nah, ke depan baik ee para pelaku-pelaku, penerbit, penulis, akademisi harus bersama-sama, Pak. Karena kenyataan di faktual di lapangan Pak, akses masyarakat itu terhadap buku-buku bacaan itu yang tidak tersedia, Pak. He. Nah, ini yang perlu kita dorong. Oke. Baik. dari ee apapun upaya dari Perpusnas ee untuk meningkatkan minat baca ini ee saya khawatirnya peribahasa buku Jendela Dunia sudah hilang gitu. Nah, untuk mempertahankan itu bagaimana? Apakah ada kampanye-kampanye khusus dari Perpusnas ya meskipun ada hybrid ya konvensional itu kan peribahasa, mungkin ada ee peribahasa lain yang Perpusnas akan kampanyekan ketika ada digital itu tadi. I kita punya program namanya Gerakan Indonesia Membaca, Pak. Oke. Itu sampai pada pedesaan dengan buku-buku bacaan bermutu. Heeh. e kita melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, para penulis berbicara di sana. Nah, juga festival literasi nasional ee ini juga menjadi bagian yang sangat ee strategis menurut saya karena tadi literasi itu adalah kolaboratif sifatnya kerja sama yang harus melempatkan seluruh unsur, Pak. Termasuk penulis, akademisi berbicara tentang itu pentingnya literasi. Heeh. Karena ee kampanye literasi itu memang harus terus kita lakukan, Pak. Bagaimana Indonesia Emas 2045 kalau modal insaninya sekarang ini mengandalkan tadi AI ataupun baca digital yang sangat dangkal itu membangun konstruksi pemikiran kritis terhadap anak-anak didik kita atau sekarang ini ada 82 juta loh, Pak. Heeh. anak-anak sekarang ini yang memang harus kita bangun literasinya dari sejak awal. Kalau kita-kita ini seperti Pak Manerep mungkin enggak perlulah gitu kan karena tapi kan baca tidak terbatas usia Pak. Iya memang tetapi kan pondasi yang kuat itu harus kita buat dari anak sejak dini. Baik. Yang terpenting adalah bagaimana kemudian Perpusnas membuat kesadaran masyarakat untuk datang ke Perpusnas atau perusahaan-perusan eh perpustakaan-perpustakaan di daerah begitu ya. Khawatir e bukunya jadi makanan raya, Pak. Oh, enggak.
Data pengunjung kami. Heeh. Ini seperti yang di Merdeka Selatan kita bangun satu e ruang yang inklusif. Heeh. Tahu enggak, Mas Ustaz? Setiap hari 5.000 orang hadir di sana, Pak. belajar membaca. Dan demikian juga di pelosok pedesaan ada mobil perpustakaan keliling, motor perpustakaan keliling itu ada anak-anak karena enggak dapat buku menangis. H. Jadi kadang-kadang saya bingung apakah betul budaya baca Indonesia itu rendah? Mungkin saja karena enggak ada akses, Pak. bisa. Oke. Enggak ada menariknya juga karena di perpustakaan kan ada apa ee semacam apa ya skrin besar untuk ee menerima atau memberikan informasi kepada pengunjung begitu ya. Apakah itu juga perlu perhatian dari pemerintah daerah sendiri untuk membuat layanan serupa begitu? Ya, tentu yang paling utama menurut saya ya bahwa perlu ada keberpihakan kebijakan pemerintah Pak. Oke. Dalam program literasi ini terus kita dorong walaupun memang secara apa konsep teknokratik di RPJMN 2000 ee 2429 Bapak Presiden Parapowo memang ee literasi ini adalah program prioritas. Oke. Cuma ini selalu program yang digalakkan oleh ee Komdigi ya mengganti Komisi SAT literasi digital begitu. Tapi jangan sampai tumpang tindi satu literasi digital dan literasi masyarakat baca secara konvensional juga harusnya beriringan begitu Pak Adin. I jadi kalau Perpustakaan Nasional itu tadi yang saya sebutkan ya pendekatan program transformasi perpustakaan berbasis inklusi itu pemberdayaan Pak. Oke. Jadi ada 3.66 he lokus-lokus yang kita bangun itu bertransformasi. Artinya begini, bahwa kehadiran perpustakaan itu tidak hanya ruang menyimpan buku, tapi ruang bagi masyarakat belajar kontekstual. Oke. Ruang mereka berbagi pengalaman di desa itu, di ruang perpustakaan itu, dan juga ruang meningkatkan keterampilan hidup. Oke. Dan ada 13 juta dampak yang sudah diterima sehingga masyarakat kita di pedesan itu ee menemukan simpul-simpul ekonomi baru. Oke. Kita berikan literasi terapan misalnya beternak lele misalnya gitu ya dipraktikkan Pak di sana. Nah itu juga literasi itu juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Oke. Bagaimana kemudian masyarakat berdaya begitu ya. Baik. Tadi Pak Din sudah menyenggol sedikit soal 2045 generasi emas begitu. Kalau menurut Anda optimis kalau memang kondisi ini tidak kunjung diubah oleh semua stakeholder baik masyarakatnya dan juga pemerintahnya menurut Anda, Pak Menerep? Ya, ini pertanyaan bagus menantang juga ya.
Kalau ya kita sebagai bangsa penentu ee generasi 45 itu seperti apa. Kita sebagai bangsa tentunya harus selalu optimis ya. Kalau saya optimis melihatnya itu ya. Tetapi kita tentunya jangan lupa ya yang kita bahas tadi itu budaya baca itu, literasi itu memang harus itulah yang diutamakan duluan ya. Ee tadi sudah disampaikan Bang Adin tadi ternyata saya pun sering di apa toko buku ya. Saya lihat anak-anak sini berebut loh membaca itu ya. Berebut membaca cari buku gitu ya untuk bacaan ya. Dan satu hal lagi ya yang kalau saya yakin sekali bahwa itu 205 menjadi bagian dari tahun mas untuk kita ya kita yakin ya. Tetapi kita mulailah semua ya yang sudah jangan dibahas-bahas lagi tetapi kita mulailah dengan budaya baca tadi itu ya di universitas, di sekolah-sekolah ya sekarang ini kan sudah berbenah diri seperti di Swedia saya dapat informasi terakhir itu ya sudah kembali ke baca buku dia tidak digital lagi. Bukan, bukan sebetulnya kita benci terhadap digital di AI bukan ya. Karena memang basisnya perlu kita luruskan ini bahwa AI digital adalah eh supporting sebetulnya bukan itu yang utama ya. Enabler kalau bahasa ininya bahasa kerennya itu ya alat-alat bantu dia ya. kita harus tetap membaca tambahan dari situ.
Tanpa itu ya Profesor Cici tadi sudah sampaikan ya mahasiswa gimana ya kalau dari A menjawab pertanyaan bisa dibayangkan? Tapi sama kan ee kalau Pak Menerep menghadapi mahasiswa yang mencari jawaban dari AI, apa yang kemudian Pak Manerep lakukan? Ayah jujur [tertawa] ya kita harus mencoba melihatnya secara realistis lah ya. ee dia tetap bisa mengambil jawaban dari sana, tetapi bacalah dianalisis itu kira itu yang penting. Tadi sudah disampaikan itu ya kembali lagi ya harapan kita membaca, berpikir berpikir termasuk bagian dari analisis tadi itu ya. Kemudian melakukan sharing tadi itu ya. Nah, kalau saya melihatnya ini 205 kita harus tetap optimis ya dengan kondisi bangsa kita yang saat ini ya. Ya, ada gejola seperti ini. Saya yakin ini bagian-bagian dari ya hal yang biasa ya. Baik. Bukan hanya keinginan optimis saja tapi juga perlu action-nya. Bagaimana kemudian mewujudkan 2045 generasi Mas? Kita tahan dulu pemen kita harus jadi sesat pemirsa. Merah putihkan kembali sajedaanalisa mendalam dari buletin harian hingga dialog yang mengulas ragam isu ekonomi dan bisnis. Banyaknya kalau kita lihat sekarang adalah kenaikan harga-harga energi ya. Belum lagi supply chain disruption ya. Harga LPG 3 kg atau subsidi tetap stabil dan tidak mengalami kenaikan. Harga bahan baku dalam dua pekan terakhir membuat produsen kian tergencet. Saksikan Nusantara Economic Updates setiap Senin sampai Jumat jam .30 pagi live di Nusantara TV. Akhiri hari Anda dengan peristiwa yang tersaji di sepanjang hari. Jangan lewatkan peragam berita yang menginspirasi dan mencerdaskan. Polisi memeriksa enam saksi atas pembunuhan Nus di bandara Karel Sansui Tubun. Sembilan bangunan yang terdiri dari satu rumah dan 8 bedeng di Palembang, Sumatera Selatan hangus terbakar. Saksikan NTV Tunai setiap Senin sampai Jumat jam 10. malam live di Nusantara TV. Ada kembali bersama kami di Merah Putih. Di perjumpaan terakhir kita ini, saya mau memberikan sebuah data dan yang kemudian akan dianalisis oleh masing-masing narasumber saya. Kita lihat berikut ini terlebih dahulu. Berkaitan dengan eh Oh, saya pindah ke sini aja ya. berkaitan dengan negara ASEAN paling gemar membaca. ee rata-rata per tahunnya Indonesia berada di posisi ketiga not bad lah ya 129 jam per tahun. Nah, apakah ini juga menjadi penentu bagaimana kemudian negara-negara ini bisa ee mengejar negara-negara maju yang tadi Bu Sri sebutkan ada Korea Selatan, Jepang. Kalau menurut Pak Grand Prix apa yang kemudian Anda baca dari data ini? Iya. Ini kan sebenarnya data kuantitatif ya, Mas Irsal ya. Ini kan snapshot saja dari satu point of view ee dan berbicara kuantitatif. Ee satu hal yang penting selain kuantitas membacanya adalah kualitas membacanya. Ya, ini juga yang mungkin belum terpotret dari sini. Heeh. Jadi ee tentu ee ee jam membaca penting, tapi seberapa dalam ee atau seberapa ee ee ee kedalaman dalam membaca itu. Ini yang mungkin belum belum ter ee cuplik di situ. Yang penting bagi kita nanti untuk mengetahui ee baseline kita tuh sebenarnya sudah di mana. Tanpa tahu itu ya akan sulit untuk menentukan arah ke depannya, strateginya seperti apa. Oke. Ini kan tadi peringkat baca per jam gitu. Saya punya data ee usia 15 tahun Indonesia berada di posisi mana tingkat bacanya? Kita lihat lagi. Oke, saya pindah lagi aja ya. Oke, Indonesia berada di posisi ke ee enam ya. Iya eh sori. Iya keenam ya Indonesia dengan indeksnya 359. 15 tahun ini adalah Genzi tadi saya sebutkan. Kalau kita kan milenial masih bisa lah ya untuk mencontek apa yang kita lihat begitu. Nah, Gen ini polanya seperti apa? Kalau ini ee di posisi enam artinya ya kita punya masalah nih, punya tantangan oleh generasi genzi kita nih. Ini yang tadi saya bilang ee kuantitas versus kualitas. Secara kuantitas kan tadi kita ee nomor tiga, betul. Tapi kemudian setelah dianalisis ee pakai kualitas ee kemampuan membaca kan turun ke posisi enam. Sehingga ini penting dan juga ee yang tren sekarang kan adalah ee informasi yang cepat dan instan ya. Ee itu kan sebenarnya kalau kalau sedikit biologi atau kimia itu kan rilis dopamin di otak dan itu membuat kita ingin terus scroll. Itu eh chemically driven sebenarnya. Oke. Dan itu nanti ujungnya brain road. He kemampuan kita untuk ee ee memahami sesuatu yang kompleks akibat sering terpapar oleh hal-hal yang sudah diover simplified dan instan itu akan mendangkalkan kemampuan berpikir sehingga ee oke kita bagus kalau sudah punya ee kuantitas waktu membaca yang lama, tapi kualitasnya ini yang harus kita kita kejar. Oke. Tadi Prof. seri masih berharap ada masyarakat yang optimis, masih bisa membaca mendalam untuk melakukan berpikir kritis begitu ya. Nah, pertanyaannya bagaimana kemudian melatih masyarakat agar lebih terbiasa berpikir berbasis bukti? Kalau tadi Anda bilang ya banyak e konten-konten begitu ya, tapi belum tentu itu valid begitu ya. Nah, ini melatihnya gimana? Kalau bahasa ee kerennya kalau saya salah tolong koreksi ada evidence based thinking ya kalau enggak salah. Apa yang kemudian Anda bisa ee referensikan ini ya? Ciri negara maju itu kan harus evident based eh decision ya. Eh negara yang belum maju itu memutuskan sesuatu berdasarkan viralitas, popularitas dan populism. Jadi jadi ee ee ee itu itu batas yang jelas. Nah, sekarang kita harus menentukan kita mau ke mana. He. Dan ini juga sebenarnya PR bagi para ilmu ee bagi para dosen dan lain sebagainya. Orang-orang yang dianggap berilmu itu kan kadang-kadang mereka hidup di menara Gading yang terlepas dari sendi-sendi masyarakat. He. Maka ya ee seorang ilmuwan juga harus menjadi sains communicator yang baik kepada masyarakat. tidak bisa ee ya dia hidup di menara Gading. Kami orang terpelajar, kalian masyarakat jelata kita segregasi kita terpisah. Tidak bisa seperti itu. Makanya ya ee saya pun akhirnya yang menganggap ini apaan sih media sosial. Jadi harus terjun juga karena memang di situlah ceruk masyarakat kita tuh ada di situ dan kita harus hadir untuk mengkomunikasikan, menegaskan, memberi contoh, memberi teladan kepada masyarakat bahwa kalau kita mau berubah, kita harus mulai dari sekarang. Oke. Nah, itu dia PR-nya. Bagaimana kemudian anak usia 15 tahun sekarang menghadapi keputusan ke depan? Ya, mungkin memang sekarang mereka sudah berhadapan dengan eh make a decision untuk eh pengambilan keputusan ekonomi secara singkat, jajan dan lain sebagainya. Tapi untuk ke depan kan ada keputusan ekonomi strategis yang harus mereka hadapi. Begitu. Bagaimana kemudian meningkatkan posisi enam ini menuju ke keputusan itu, keputusan ekonomi, pendidikan, bahkan karir sekalipun gensi sekarang kalau tidak sesuai apa yang mereka inginkan menolak kerjaan. ee ya dasarnya sebenarnya tadi sudah kita diskusikan ya, bahwa ee keluarga itu menjadi penting gitu ya, tapi guru pada early education itu menjadi sangat penting. Jadi jangan dibiasakan bahwa jawaban atas segala hal itu sifatnya tuh em ee satu saja, tunggal gitu ya. bahwa sebenarnya kebenaran itu banyak versi, kemampuan untuk memahami aneka alternatif itu yang harus ee diperkenalkan kepada anak sejak dini seperti itu. Tadi kan sebenarnya tadi dari grafis itu kemampuan membaca secara bacaan [berdehem] saja itu memang bagus kan tapi kalau berkurang di usia yang tadi 15 tahun itu [mendengus] kan soal firsten memahaminya. Nah, memahaminya itu berarti tidak terjadi proses berpikir. Tadi kata kunci dari Pamanarp ya, proses berpikir harus dilakukan setelah membaca. Karena jika dilakukan proses berpikir maka kita menjadi kritis ya apakah informasi itu benar adanya. Dan kalau kalau pada sekolah ke pasca sarjana yang kita harapkan yang kami hasilkan itu adalah seorang lulusan yang punya systematic thinking. Systematic thinking yang bisa membantu produce knowledge kalau berbasis AI saja. Siapa kemudian yang akan menghasilkan knowledge? Kan itu pertanyaannya. Jadi ee guru dari guru dan juga dosen jangan selalu menganggap bahwa jawaban itu tuh selalu tunggal kecuali eksak kali ya. Kalau 2 + 2 zaman dulu kan enggak berubah sampai sekarang gitu ya. tetap empat seperti itu. Jadi ee ee menjadi opened ya sehingga tercipta systematic thinking itu menjadi kata kunci sehingga kita bisa memproduce knowledge menghasilkan inovasi sehingga kita meraihlah ya tujuan-tujuan negara kita itu, Mas. Oke. Nah, ini juga pertanyaannya buat kembali ke Pak Grand Prix ini. Kalau ee Prof. Sri kan mengatakan bahwa ya kalau di dunia penelitian kalau kualitatif kan pertanyaan satu bisa jawabannya beranak begitu ya. Tapi kalau di dunia eksak begitu ya, apa yang kemudian harus dimiliki seseorang untuk mengambil keputusan suatu penelitian kalau tidak berdasarkan data kan kacau ya. Iya. Jadi memang ee ee harus berbasis ee data yang dilakukan dengan kaidah-kaidah ilmiah yang tepat dan baik. Jadi kan sebenarnya peneliti itu kan boleh salah ya Mas Irsal, tapi tidak boleh bohong. He. Yang terjadi itu karena ada margin of errornya ya. Betul. Ada standar deviasi dan lain sebagainya. Yang terjadi ee di beberapa peristiwa baru-baru ini yang viral itu kan fabrikasi data. data yang sebenarnya tidak ada dibuat jadi ada difabrikasi menggunakan AI. Itu kan hal yang salah. Jadi ee ee mau eksak mau noneksak asal ee dilakukan dengan kaidah-kaidah ilmiah yang tepat yang yang etik itu harusnya ee menghasilkan suatu ee pengetahuan yang bermakna dan juga berdampak. Itu yang harus kita ee ee apa namanya? tekankan sekarang. Etika AI kan juga di tahun 2020 saja itu negara maju pun belum ada yang punya ee panduan kode etik menggunakan EA itu seperti apa. Baru di 2023. Jadi memang ini sesuatu yang sangat baru. Tapi bukan berarti kita harus gagap. Kita justru harus siap. kita harus ready dengan perubahan ini yang serba cepat ini. Dunia boleh berubah, semuanya boleh berubah, tapi fundamental itu selalu di situ. Oke. Nah, yang dihadapi ee Prof. Sri juga sebagai orang tua begitu ya, ibu dari anak-anak begitu. Bukankah ee berpikir kritis itu sudah ada, Bun, ini apa sih, Bun? Bun, ini apa sih, Bun? Tapi yang menjadi masalah adalah orang tua yang udah mumet duluan menjawab pertanyaannya. Apalagi kalau Gen Alfa sekarang dengan ucapan yang spontanitas yang membuat kita apa ya jawabannya gitu. Nah, ini juga kan bukan hanya ee kewajiban sekolah saja orang tua. Bagaimana Anda kemudian membaca ini? Wah, itu saya kebetulan relevan banget. Saya ada bonusan anak pandemi ya itu ternyata berat banget. pertanyaannya jauh lebih kritis karena mereka tkspos terhadap ee gadget itu sejak awal seperti itu ya. Ee tapi eh reflecting back untuk yang membesarkan anak yang maksudnya generasi sebelumnya itu saya lost aja seperti itu ya. Ee saya melihat bahwa kegemaran membacanya itu mulai muncul saat mereka kepentok gitu ya. Kepentok dan merasa butuh informasi tuh mereka baru ee mulai membiasakan membaca. Tapi kalau untuk generasi alpa ini saya enggak punya jawaban ya, [tertawa] karena sebenarnya PR-nya itu PR-nya itu berat sekali. Tapi sebenarnya menurut saya ee orang tua terutama kan kita semua tuh ter ee expos terhadap influencer seperti itu ya, Mas ya. Makanya ee masyarakat mayoritas konsumtif dan lain sebagainya. Nah, sebenarnya kesadaran orang tua bahwa sebenarnya ee membaca itu bisa menjadi salah satu kunci untuk mobilitas sosial sebenarnya. Memecahkan masalah ekonomi, memecahkan masalah sosial. Mungkin kesadaran itu yang harus di-highlight gitu ya, mungkin oleh pemerintah dan oleh influencer yang bertanggung jawab. Tapi saya pengin menghlight sih sebenarnya ini kita jangan ee hanya fokus pada literasi terkait dengan membaca saja, tapi karena di dalam ee apa sih ee sumber-sumber yang lain ee tanggung jawab pendidikan itu literasi pada tanggung jawab sosial itu menjadi penting sehingga kita tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab tidak melakukan fabrikasi data dan lain sebagainya dan memanfaatkan ee AI secara bijak dan itu harus ditanamkan ee pada anak-anak sejak dini gitu. itu terhadap itu menadi p. Oke. Baik. Ini tantangan Pak Adin juga karena berkaitan Genzi begitu ya. Apakah kemudian buku-buku yang sudah terbit puluhan tahun yang lalu masih relevan dengan generasi gen alfa yang bahasanya kita sendiri tidak paham gitu? ada bahasa-bahasa untuk mereka, Pak Adin. Bagaimana kemudian itu masih relate dan apa kemudian tantangan penerbit penulis seperti Paman untuk menghadapi generasi alfa? Iya, [mendengus] pemerintah hari ini telah mencoba, Pak, bahwa persoalan kegemaran membaca ini tadi itu juga harus ada konten yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan oke masa kini anak-anak. He. Maka pemerintah melakukan namanya buku bacaan bermutu. Oke. Itu sudah diassesmen, Pak, oleh Kemendikdas Dustman bahwa buku-buku itulah yang menjadi ee buku yang enak dibaca mereka dari berbagai subjek. I. Nah, Perpustakaan Nasional di dalam konteks pembangunan karakter juga kami memiliki kearifan lokal yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita, Pak. He. Mulai dari abad 12 yaitu naskah manuskrip Nusantara kita, naskah kuno Nusantara. Nah, kami di perpustakaan bekerja sama dengan ITB itu juga membuat satu bacaan-bacaan bermutu bagi anak dengan berbagai versi, ada komik, ada permainan sehingga nanti ee karakter kita berbasis budaya tokoh Indonesia itu juga akan terinternalisasi bagi anak-anak kita. Oke. Nah, persoalannya adalah bacaan atau konten buku itu yang harus kita kembangkan sesuai dengan genjet saat ini, Pak. Kan ada segmentasi tentunya bagi masyarakat yang ingin dewasa, yang ingin meningkatkan keterampilan hidupnya, ya kita bangun buku-buku life skill sesuai dengan kebutuhan mereka kan itu. Tapi sudah relate belum, Pak, apa yang diasesmen sama ee pemerintah terkait dengan generasi sekarang? Iya. Tentu asesmen yang dilakukan oleh Kementerian ee Pendidikan itu tentu sudah sangat relate dan kami di perpustakaan mendiseminasikan itu ke masyarakat, Pak. Oke. Dan itu sangat disenangi oleh anak-anak kita. He. Tadi yang saya sebutkan kita membangun ruang-ruang baca di desa itu itu setiap hari, Pak, full. Oke. Itu, Pak. Jadi, artinya apa? Sesungguhnya yang perlu kita dorong sekarang menurut saya ada tiga satuan yang menjadi ee satuan strategis. Yang pertama adalah keluarga tadi yang disebutkan oleh Prof. tadi nah kemudian adalah satuan pendidikan, Pak. Ya, sudah ada gerakan literasi sekolah. Betul. Jadi, literasi pembelajaran itu tidak hanya guru mengajar, tetapi juga mengkaitkan juga dengan buku-buku bacaan di perpustakaan. Oke. Sehingga membangun ee pemikiran kritis anak-anak kita. He. Ada resensi buku akan menulis cerita kembali. Ini kan membiasakan. Karena bagi saya menurut saya bahwa perilaku itu bisa dibangun Pak Irsad. Perilaku membaca itu bisa dibangun. Bisa diubah ya. Kalau dalam ilmu agama Islam yang bisa diubah nasib. Yang tidak bisa diubah takdir. [tertawa] Takdir gitu. Kalau membaca bisa diubah. bisa pakai doa dengan kekuatan doa. Baik, Pak Adin terima kasih waktu kita terbatas. Tapi saya mau terakhir ke Pamanet. Biarkan Pak Adin bersama pemerintah berkolaborasi untuk bagaimana kemudian menghadapi tatangan zaman. Tapi yang paling penting adalah bagaimana membuka mata kita semua bahwa ke depan kita punya tantangan yang jauh lebih berat dari hari ini. I jadi terima kasih nih Pak Irsal ya. Ee kembali ke tadi literasi tadi ya. Tidak mudah sebetulnya ini ya. Tetapi kita harus yakin itu harus yakin ya. Karena kita harus kembali ke pembukaan tadi. Tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang maju tanpa budaya baca yang tinggi. Itu harus kita pegang itu ya. Sama seperti ee apa? Pengetahuan. Pengetahuan ee mereka-mereka negara-negara maju yang memiliki pengetahuan itu. Itulah basisnya mereka. Iya. Nah, kalau saya melihatnya ada satu hal poin yang penting ya kita harus pegang harus kita cinta terhadap itu. Pengetahuan tadi itu ya. [mendengus] Cinta pengetahuan akan membuat kita menjadi budaya baca itu tinggi itu ya. Tidak bisa hanya sekedar ee apa disuruh baca ya, tetapi kita harus melakukan dengan benar gitu ya. disadarkan semua ya pengetahuan itu menjadi basis yang sangat bagus untuk membangun sebuah bangsa ya dan itu diperoleh dari budaya baca yang tinggi tadi ya literasi tinggi. Nah, sekarang yang menarik ya saya lihat itu di ee terakhir di Swedia. Swedia itu sudah kembali ke buku-buku lagi dia. Iya. Ya, bukan berarti kita benci atau apa ya, tidak suka dengan AI, dengan berarti di sana tuh penulis-penulis dapat angin segar gitu ya, karena pemerintahnya mengembalikan masyarakat ke buku ke buku dia karena dianggap ternyata ada satu poin yang kita tarik di sana diajari menulis lagi atau menulis itu menulis itu ternyata ketika kita saya sudah bayangkan ketika di bangku kuliah kalau menulis itu langsung Prof ya langsung lengket ilmunya itu ya iya Hanya di imajinasi itu jadi ada sistem belajar tuh bukan kebut semalam ya baca tulis ulang baca lagi tulis ulang itu ternyata efektif ya betul gitu menulis itu kita mendengar dari sana seorang dosen menyampaikan sesuatu kita sambil nulis itu jauh jauh lebih besar ternyata emang itu sudah dipakai sejak dulu catat anak-anak tapi anak-anaknya nyatat mulu gitu ya padahal itu salah satu metode yang tepat untuk masuk ke otak begitu ya terakhir secara singkat peman rap ini terkait dengan oke terkait dengan hari buku ya bukan hanya untuk memperingati tapi bagaimana kemudian kita Pak Manar juga sebagai penulis untuk ee melakukan one action yang ee jelas dan nyata. Ya, saya coba mengumpuli beberapa pendapat dari para ahli ya mengenai soal membaca itu ya. Memang kita harus kembali ke sana dia ya. Hari buku mengingatkan kita ya. Hari buku itu sedunia tanggal 23 April di dunia kemudian tanggal 17 ee Mei di NKRI nasional. ya pesannya sederhana membaca ee kemudian kita melakukan berpikir menganalisis yang mendapatkan pengetahuan tadi itu dan juga menulis kembali lagi menulis lagi itu loh ya entah bagaimana tulisannya tapi menulis lagi itu itu siklus yang benar-benar memang harus diulang lagi ya ee itulah pesannya hari buku tadi itu ya yang selama ini kita anggap karena memang di masyarakat dianggap ini buku tidak perlu lagi. itu betul tadi yang dia disampaikan itu buku itu seolah-olah enggak perlu karena sudah banyak informasi di gadget ya begitu ya itu harus kita luruskan itu harus kita buang ba rasanya Pak Mar sudah punya keinginan untuk menulis buku dengan bahasa Swedia karena pasarnya di sana banyak [tertawa] terima kasih baik terima kasih Pak Manerep terima kasih Pak Adin terima kasih ProfSRI terima kasih Pak Grand PRK sudah hadir bersama kami di Merah Putih tugas kita adalah mengawal apa yang kemudian menjadi program pemerintah untuk meningkatkan baca masyarakat tentunya untuk menghadapi Indonesia generasi 2045. Baik pemirsa demikian barap putih saya Muhammad pamit. Selamat malam, sampai jumpa.